MEMBANGUN PERADABAN BELAS KASIH
membangun-peradaban-belas-kasih

By Team Komsos 19 Des 2017, 16:39:59 WIB Metropolitan
MEMBANGUN PERADABAN BELAS KASIH

Keterangan Gambar : MEMBANGUN PERADABAN BELAS KASIH


Kitab Suci (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) berkisah tentang Allah yang penuh belaskasih kepada manusia. Bagi Allah, setiap individu berharga dan pantas mendapat tempat di hatiNya. Tak soal apakah pernah berbuat salah atau dosa, semua pantas menerima kerahiman dan belaskasihNya. Allah tak ingin kehilangan seorang pun; kerahiman Allah tersedia bagi semua orang. Kita juga dipanggil untuk menjadi seperti diriNya: Seorang pribadi yang penuh belaskasih bagi sesama. Mungkinkah itu bagi kita? Tentu saja. Allah tak hanya menciptakan, tetapi juga memperlengkapi kita dengan kapasitas yang memungkinkan kita berbelaskasih.    

Kita dianugerahi akal budi. Sejak awal, otak kita sebenarnya terlatih untuk berbelaskasih. Otak (khususnya bagian depan atau frontal lobe) sangat responsif terhadap pesan atau signal emosional, khususnya empati yang berasal dari amigdala. Dacher Keltner (2012) dari Universitas California, Berkeley, U.S.A, mendokumentasikan: Ketika menyaksikan sesama yang menderita atau malang, setiap orang mempunyai dorongan alamiah untuk berbelaskasih. Belaskasih merupakan respon bawaan yang menjamin kelangsungan hidup manusia (Bowlby, 1969; Mikulincer & Shaver, 2003). Tanpa belaskasih, khususnya empati, peradaban manusia terancam kepunahan. Namun, sukar dijumpai negara yang tak memiliki prinsip keadilan dan belaskasih. Negara dan masyarakat yang tidak memiliki prinsip keadilan dan tak menghidupi belaskasih bagi warganya yang miskin, malang, dan menderita kehilangan hak keberadaannya. Namun, hal itu tak terbayangkan. Warga sendiri akan menggugat. Naluri atau dorongan belaskasih mereka akan berbicara.

Tidak mengherankan bahwa keadilan sosial dan belaskasih kerap kali menjadi proyek kemanusiaan hampir di tiap masyarakat yang berbudaya. Namun, perlu juga disadari adanya perubahan-perubahan dasariah dalam hidup manusia sebagai masyarakat. Walaupun keadilan social dan belaskasih telah menjadi prinsip kehidupan bernegara dan bermasyarakat, empati dan kepekaan hati nurani makin merosot. Artinya, kapasitas kodrati untuk berbelasih makin berkurang, dan karena itu perlu di perlu diasah kembali.

Kalau menengok perkembangannya, kita disadarkan akan anugerah kodrati lain yang menjadi semancam pintu hati nurani (dan empati): Panca indera. Pengalaman-pengalaman kemanusiaan kita pada awalnya terbentuk berkat pengalaman inderawi, yakni apa yang kita lihat, yang kita dengar, yang kita hirup, yang kita cecap, dan yang kita sentuh. Kalau serius mengasah dan mempertajam kembali kepekaan inderawi kita, bukan tidak mungkin kita bisa menghidupkan kembali hati nurani dan dorongan alamiah kita untuk berbelaskasih. 

(Yulius Sunardi, SCJ)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Jadwal Misa Jumat Pertama

Paguyupan Lansia
Jumat 05 Januari 2018
                Pk. 08.30
Umum
Jumat 05 Januari 2018
                Pk. 18.00

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Foto Wilayah - Lingkungan