MAKNA YESUS SEBAGAI TOKOH TELADAN DALAM KEMERDEKAAN
makna-yesus-sebagai-tokoh-teladan-dalam-kemerdekaan

By Team Komsos 19 Des 2017, 17:57:12 WIB Metropolitan
MAKNA YESUS SEBAGAI TOKOH TELADAN DALAM KEMERDEKAAN

Keterangan Gambar : Tuhan Yesus


Tidak satu bangsa pun bersedia berada di bawah penjajahan bangsa lain. Maka pada pertengahan abad 20 ada banyak bangsa menyatakan kemerdekaannya, termasuk bangsa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka berarti “bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.” Bukan hanya suatu bangsa saja, setiap individu juga menginginkan kebebasan. Bahkan Allah pun menghendaki kemerdekaan bagi umat-Nya. Kisah Keluaran adalah salah satu dari sekian banyak upaya Allah untuk membebaskan umat-Nya dari segala bentuk penjajahan, belenggu, maupun keterikatan. Ketika itu Allah memerintahkan Musa untuk membawa keluar bangsa Israel dari Mesir menuju tanah terjanji. Puncak pembebasan manusia telah Allah genapi melalui penyaliban Yesus, Putra-Nya yang tunggal di Kalvari.

Yesus tokoh teladan kemerdekaan
Sejak zaman Perjanjian Lama, bangsa Yahudi menantikan kedatangan Mesias (Kristus: ‘dia yang diurapi’) sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi (salah satunya ada dalam Yes 53:1-12). Yesus itulah Mesias, namun bangsa Yahudi tidak mengakuinya antara lain karena Yesus tidak memerdekakan mereka dari penjajahan Kerajaan Romawi, sebaliknya Ia malah mati disalib (1 Kor 1:23). Kemerdekaan yang dianugerahkan oleh Yesus justru jauh lebih besar dan penting, yaitu Ia membebaskan manusia dari belenggu dosa (Mat 1:21) dan kuasa Iblis (Ibr 2:13)!
Setelah mendirikan Ekaristi pada saat Perjamuan Terakhir dengan para rasul-Nya, Yesus pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Kepada murid-murid-Nya ia mengatakan: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya…” Kemudian Ia berdoa kepada Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari-Ku, tetapi jangalah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:36-39). Cawan adalah lambang penderitaan dan Yesus tahu persis Ia akan menderita sengsara sampai mati. Sebagai manusia Ia tentu merasa sedih dan gentar. Namun Ia memilih menundukkan kekebasannya pada kehendak Bapa-Nya sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan. Bila dilihat secara sepintas, Yesus seolah-olah tidak bebas dan punya pilihan lain. Tetapi justru karena Ia bebas dan merdeka, maka Ia dapat dengan leluasa dan sukarela menyelaraskan kehendak-Nya sendiri dengan rencana Bapa. Ini adalah suatu sikap Yesus yang patut diteladani oleh semua umat kristiani. Banyak orang memilih hidup dibelenggu dan dijajah oleh berbagai keinginan diri sendiri sehingga mereka justru menjadi tidak bebas merdeka.

Kegiatan pastoral Gereja yang menunjang kemerdekaan dalam kehidupan beriman
Yesus telah wafat, bangkit, naik ke surga, dan duduk di sisi kanan Bapa. Sejak saat itu visi dan misi Yesus diwariskan kepada Gereja sekaligus menjadi tanggung jawabnya (Mat 28:16-20). Salah satu tugas pokok Gereja adalah memberikan pelayanan pastoral kepada seluruh umat Allah. Dalam konteks kemerdekaan, pelayanan pastoral sebaiknya juga mencakup aspek pembinaan umat agar mereka sadar akan kewajiban untuk memprioritaskan kehendak Allah di atas keinginan-keinginan sendiri. Umat perlu dibantu supaya benar-benar menjadi anak-anak Allah yang merdeka secara sejati, yaitu tidak dijajah oleh diri sendiri, keluarga, atau siapa pun juga.
Kegiatan pastoral akan lebih mendewasakan iman bila tidak berorientasi pada penyelesain masalah saja. Dalam arti tertentu, masalah dapat menjadi pintu masuk bagi umat untuk mengalami Yesus yang memerdekakan. Untuk itu, kegiatan pastoral perlu bermuara pada peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan umat untuk bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi melalui Sabda-Nya (Kitab Suci) setiap hari. Dengan demikian, umat menjadi semakin serupa dengan Yesus yang dengan bebas dan merdeka senantiasa mencari dan melakukan kehendak Bapa-Nya sampai selesai (Yoh 4:34).

Kerahiman ilahi yang memerdekakan: pengorbanan dan cinta tanah air
Pada tanggal 8 Desember 2015 yang lalu Paus Fransiskus memaklumkan Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman Ilahi. Lima belas tahun sebelumnya, Paus (sekarang Santo) Yohanes Paulus II menetapkan tahun itu sebagai Tahun Yubileum Agung dalam rangka perayaan ke-2000 tahun kelahiran Yesus. Tahun Yubileum berikutnya seyogyanya adalah tahun 2033, yaitu Yubileum Teragung, untuk merayakan tahun ke-2000 empat peristiwa penting dalam sejarah keselamatan umat manusia: sengsara, wafat, kebangkitan Yesus, serta kelahiran Gereja. Oleh karena itu, Tahun Yubileum yang sekarang sedang berjalan ini disebut Luar Biasa (extraordinary, ‘tidak lazim’). Tentu bukan tanpa alasan yang kuat mengapa Roh Kudus menggerakkan Paus Fransiskus untuk mencetuskan sebuah Tahun Yubileum yang ‘belum waktunya’ ini.
Delapan bulan sebelum dimulainya Tahun Yubileum Luar Biasa ini, tepatnya pada hari Minggu Kerahiman Ilahi (tanggal 11 April 2015), Paus Fransiskus menerbitkan dokumen Bulla Misericordiae Vultus (artinya Wajah Belas Kasih) agar umat memperoleh pemahaman yang benar mengenai Tahun Yubileum Luar Biasa. Sangat penting bagi setiap individu Katolik untuk memahami secara baik dan benar mengenai apa yang disampaikan oleh Bapa Suci dan mengamalkannya. Sebab bila tidak, maka tidak mustahil apa yang sesungguhnya menjadi tujuan utama diadakannya Tahun Yubileum Luar Biasa ini tidak tercapai.
Semboyan yang Bapa Suci canangkan untuk Tahun Yubileum ini adalah: ‘Berbelas kasihlah seperti Bapa’ (Luk 6:36). Ia mengingatkan bahwa pewartaan dan kesaksian belas kasih adalah tugas dan tanggung jawab semua umat kristiani. Di samping itu ia menegaskan bahwa berbelas kasih adalah ciri anak-anak Allah yang sejati. Seluruh umat diminta untuk lebih peduli pada warga masyarakat yang kecil, miskin, tersisih, dan menderita. Wujud kepedulian yang nyata hanya mungkin dilakukan oleh orang yang merdeka seperti Yesus, yaitu pribadi yang selalu mencari dan melakukan kehendak Bapa. Di samping itu, tindakan belas kasih yang konkret juga merupakan salah satu bentuk pengorbanan dan rasa cinta tanah air.
Secara khusus, Paus Fransiskus mengingatkan jangan sampai kita jatuh dalam jebakan maut dengan berpikir bahwa hidup tergantung pada uang dan bahwa segala sesuatu selain uang tidak ada nilai atau martabatnya. Ia menegaskan bahwa pandangan seperti itu adalah sesat! Lebih lanjut ia menulis bahwa kita tidak dapat membawa uang pada kehidupan selanjutnya dan uang tidak dapat mendatangkan kebahagiaan. Tuhan Yesus bersabda: “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan… ia akan setia pada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24). Demikian juga, melalui St. Paulus Allah menegaskan: “…akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman” ( 1 Tim 6:10). Orang-orang yang merdeka adalah mereka yang sepenuhnya bergantung pada Allah, bukan pada kekayaan, kekuasaan, atau pada manusia lainnya.
Dewasa ini ada banyak sekali orang yang hidupnya tidak tenang, tidak damai, dan tidak sukacita. Orang-orang seperti ini, walaupun secara materi mungkin sangat berkelebihan, dapat dibaratkan sebagai orang yang tidak merdeka karena hidupnya terkungkung oleh rasa galau, gelisah, cemas, khawatir, amarah, dendam, sakit hati, iri hati, tidak pernah puas, dst. Menurut Paus Fransiskus, bila kita terus menerus mengkontemlasikan misteri belas kasih Allah dan menyalurkan belas kasih itu kepada siapa pun, maka hidup kita akan diliputi dengan rasa sukacita, tenang, dan damai. Inilah tahun dimana seluruh umat diajak untuk memerdekakan diri. Ia berharap agar tidak seorang pun tidak peduli pada undangan untuk mengalami belas kasih Allah, khususnya di Tahun Yubileum Luar Biasa ini.
Bapa telah menganugerahkan Putera-Nya pada kita, antara lain agar kita mempunyai teladan yang sejati dalam kemerdekaan. Kita dimerdekakan oleh-Nya bukan dalam arti kita bebas berbuat apa pun semaunya, melainkan supaya kita bebas untuk menempatkan prioritas Allah di atas prioritas kita sendiri. Bila kita mengabaikan kepentingan Allah maka sama saja kita memenjarakan diri dalam kungkungan egoisme yang dapat membinasakan jiwa. “Memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal 5:13). Di Tahun Yubileum Luar Biasa ini kita diingatkan untuk mengalahkan diri sendiri agar dapat benar-benar mencapai kemerdekaan yang sejati, sebagaimana telah diteladankan oleh Yesus. Hidup merdeka atau terjajah? Silahkan pilih!

(Iwan Odananto)

artikel diterbitkan MediaPass edisi Agustus 2016




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Jadwal Misa Jumat Pertama

Paguyupan Lansia
Jumat 05 Januari 2018
                Pk. 08.30
Umum
Jumat 05 Januari 2018
                Pk. 18.00

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Foto Wilayah - Lingkungan