Katekese Liturgi (14)
Duduk dan Mendengarkan Sabda Allah

By RP. Thomas Suratno, SCJ 02 Jan 2018, 18:10:05 WIB Surat Gembala
Katekese Liturgi (14)

Keterangan Gambar : Katekese Liturgi (14)


Katekese Liturgi (14)

Duduk dan Mendengarkan Sabda Allah 

« Iman itu timbul dari pendengaran, dari pendengaran oleh  firman Kristus » (Roma 10:17)

Di awal hidup Gereja atau masa-masa Gereja Perdana, bah-kan Yesus sendiri menyampaikan ajarannya lewat perkataan dan para murid dengan setia mendengarkan Dia.. Setelah itu, iman Kristen hidup tanpa Kitab Suci karena Kitab Suci baru dikanon lewat Konsili Hippo tahun 393 oleh Gereja Katolik, maka para rasul pun juga menyebarkan iman Kristen secara lisan sehingga tulisan–tulisan dalam Kitab Suci menjadi barang langka di masa itu.. Umat Katolik pada masa itu tidak memiliki Kitab Suci, mereka mendengarkan dengan setia sabda Tuhan selama Perayaan Ekaristi. Bagaimana dengan sikap kita selama Perayaan Ekaristi? Kita pun seharusnya dengan setia berusaha mendengarkan Yesus yang sedang menyampaikan sabdaNya kepada kita, sehingga kita tidak perlu sibuk membaca teks/bacaan saat itu atau bahkan sibuk membuka Kitab Suci online di gadget kita.  

PUMR 43 menyebutkan bahwa jemaat hendaknya duduk: 
[a] selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan; [b] selama Homili; 
[c] selama persiapan persembahan; [d] selama saat hening sesudah komuni. 

Khusus untuk yang berkaitan dengan Liturgi Sabda, sikap ini ada dasar biblis-nya. Misalnya, saat Yesus mengajar, orang-orang mendengarkan Dia dengan duduk memper-hatikan (Mat 5:1). Atau, saat Maria yang sedang duduk mendengarkan Yesus, sementara Marta sibuk melayani para  tamunya. 
Yesus berkata, "Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya" (Lk 10:39)

Maknanya sesungguhnya luas. Sikap duduk bisa menggambarkan saat orang meng-harapkan sesuatu; ia sedang mendengarkan atau mencerna suatu pesan. Keadaan batin tertentu juga bisa digambarkan dengan duduk. Orang seolah mendambakan untuk menemukan makna hidupnya yang sejati. Pada saat kita duduk kita pun berharap agar Allah berbicara atau menyatakan Diri-Nya kepada kita. Ini adalah saat epiklesis juga. Dengan duduk pun kita menyambut Sabda Allah dengan hati terbuka. Kita berharap agar Sabda Allah sungguh menyirami dan menyegarkan hati kita. Allah sendiri ingin agar kita dapat menjadi subur dan berbuah berkat sabda-Nya. Maka, duduk juga berarti kesediaan untuk saling mendengarkan, saling berbagi pengalaman, saling mempersatukan diri. Duduk menerbitkan rasa damai, aman, percaya, karena kita memang sedang bersatu dengan Allah. Ini menggambarkan dimensi eskatologis, saat istirahat nanti, setelah perjalanan panjang dan perjuangan hidup di dunia: "Barangsiapa menang, ia akan Ku-dudukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya" (Why 3:21). Setiap kali duduk, jiwa kita memasuki kedamaian yang membantu kita untuk menerima sabda ilahi dan mencicipi komunikasi dengan Allah nanti.

Jadi, apakah kita telah setia mendengarkan Yesus saat kita mengikuti Perayaan Ekaristi, khususnya dalam bagian Liturgi Sabda? Atau justru masih sibuk membaca atau bahkan mengobrol? Mendengarkan memang lebih sulit daripada membaca atau berbicara, namun saat mendengarkan itulah kita menunjukkan sikap dan rasa perhatian dan hormat pada Tuhan dan sesama.

Nah, kalau minggu yang lalu kita sudah mengetahui tentang Doa Presidensial, di mana doa-doa itu hanya didoakan oleh pemimpin perayaan Ekaristi, yakni Imam selebran utama. Kemudian sekarang kita juga tahu bahwa sikap kita dalam me-rayakan Ekaristi pada bagian Liturgi Sabda yakni duduk dan mendengar, maka sebenarnya Teks lembaran Misa yang memuat Doa Presidensial dan Bacaan Kitab Suci itu tidak diperlukan lagi. Seandainya diadakan seperti sekarang justru ada kecenderungan umat ikut mendoakan doa presidensial atau kecenderungan pemimpin (imam) mengajak/ mengikutsertakan umat untuk mendoakannya. Begitu juga terjadi ketidaksesuaian dengan maksud PUMR 43 ketika Sabda Allah dan Mazmur diperdengarkan oleh Lektor umat justru membaca teks. Sadarilah bahwa Lektor itu sedang menyampaikan Sabda Allah, bahkan harus dihayati sebagai Allah sendiri yang bersabda melalui Lektor. Maka sikap hormat dengan duduk dan mendengar seharusnya diikuti supaya maksud dan tujuan Pedoman Umum Misale Romawi itu tercapai. Begitu juga Lektor dan Pemazmur harus terus melatih diri dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga Sabda Allah dapat disampaikan dengan suara lantang dan jelas bagi umat. Kemudian, supaya seksi liturgi pun harus memikirkan bagaimana supaya umat tetap dapat mengikuti Misa Kudus dengan buku Tata Perayaan Ekaristi (umat-kecil) disamping buku Doa dan Nyanyian ‘Puji Syukur’ dan ‘Gema Ekaristi’, sebagai buku-buku liturgi yang disahkan oleh KWI dan Uskup setempat. Selamat berekaristi dengan baik dan benar.

Oleh: RP. Thomas Suratno, SCJ.
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Jadwal Misa Jumat Pertama

Paguyupan Lansia
Jumat 05 Januari 2018
                Pk. 08.30
Umum
Jumat 05 Januari 2018
                Pk. 18.00

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Foto Wilayah - Lingkungan