KATEKESE LITURGI (1)
KATEKESE LITURGI (1)

By RP. Thomas Suratno, SCJ 11 Des 2017, 13:33:24 WIB Surat Gembala
KATEKESE LITURGI (1)

Keterangan Gambar : Gereja St. Stefanus


KATEKESE LITURGI(1)

1. Mengenal Bangunan Gereja Kita

Gereja St. Stefanus, paroki Cilandak sebagai salah satu gereja Katolik yang unik di DKI. Nampak sangat berbeda dan unik tetapi apa yang sebenarnya unik itu? Apa saja keunikan gaya arsitektur dan nilai-nilai filosofis yang terdapat pada bangunan rumah adat Jawa Tengah ini?  Salah satu keunikan tersebut terletak pada desain rangka atapnya yang memiliki bubungan cukup tinggi. Desain atap yang demikian dihasilkan dari pola tiang-tiang yang menyangga rumah. Utamanya pada bagian tengah rumah, terdapat 4 tiang berukuran lebih tinggi yang menyangga beban atap. Keempat tiang yang kerap disebut “soko guru” ini menyangga dan menjadi tempat pertemuan rangka atap yang menopang beban atap.

Atap rumah adat Jawa Tengah ini sendiri dibuat dari bahan genting tanah. Sebelum genting ditemukan, pada masa silam atap rumah ini juga dibuat dari bahan ijuk atau alang-alang yang dianyam. Penggunaan desain rangka atap dengan bubungan tinggi dan material atap dari bahan alam merupakan salah satu hal yang membuat rumah Joglo terasa dingin dan sejuk, cocok untuk ibadah/berdoa. Adapun secara keseluruhan, rumah Joglo sendiri lebih banyak menggunakan kayu-kayuan keras, baik untuk dinding, tiang, rangka atap, pintu, jendela, dan bagian lainnya. Kayu jati adalah pilihan utama yang kerap ditemukan pada rumah-rumah lawas. Kayu jati sangat awet dan terbukti dapat bertahan lama bahkan hingga ratusan tahun.
Selain memiliki fungsi sebagai ikon budaya dan gambaran kehidupan sosial masyarakat Jawa, rumah Joglo pada dasarnya juga berfungsi sebagai tempat tinggal. Untuk menunjang fungsi yang satu ini, rumah adat Jawa Tengah ini dibagi menjadi beberapa susun ruangan dengan fungsinya masing-masing, yaitu: 
Pendapa (baca: pendopo). Bagian ini terletak di depan rumah. Biasanya digunakan untuk aktivitas formal, seperti pertemuan, tempat pagelaran seni wayang kulit dan tari-tarian, serta upacara adat. Meski terletak di depan rumah, tidak boleh dilewati sembarang orang yang hendak masuk ke dalam rumah. Jalur untuk masuk ada sendiri dan letaknya terpisah memutar samping pendapa.  Pendopo inilah sebenarnya yang merupakan bangunan yang dijadikan motif atau gaya arsitektur utama gereja paroki kita ini. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kalau mau mengakomodir seluruh bagian dari Rumah Adat Jawa Joglo, masih ada bagian-bagian lain yang disebut “Pringitan, Emperan, Omah njero, Senthong-kiwa, Senthong tengah, Senthong-tengen, dan Gandhok”. 

Dengan (bentuk) bangunan pendapa joglo yang seperti ini kemudian fungsinya dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik, menjadi gereja tempat perjamuan Ekaristi. Maka dengan begitu segala “uga rampe” (segala sesuatu yang diperlukan untuk Misa Kudus) di masukkan ditata sedemikian sehingga bisa menyelenggarakan (Korban) Misa Kudus dengan hikmat dan sakral. Namun pastilah ada bagian-bagian yang terasa dipaksakan sehingga merasa agak aneh atau merasa kurang atau bahkan tidak “sreg”. Bentuk empat sudut/bagian umat yang mengelilingi panti imam membuat tidak semua umat bisa menghadap altar (karena dibelakangi imam); imam sendiri ketika menyapa umat, membaca Injil  dan berkotbah tidak bisa memandang serta menyapa umat dengan “enak”, misalnya. 

Hal-hal yang mendapat perhatian saya antara lain SALIB BESAR di atas panti imam dipasang terlalu tinggi (kondisional) dengan warna agak sama dengan bagian dalam bubungan seringkali luput dari pandangan kita, padahal fungsi salib itu sangat penting untuk mengingatkan kita akan korban salib yang buahnya adalah Ekaristi (korban salib tak berdarah di atas altar). Jadi hubungan itu akan menjadi jelas kalau salib besar itu berfungsi sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya sering kita dengar bahwa salib itu untuk umat. Jadi bukan sekedar salib asesoris-dekoratif  belaka. Kemudian karena posisi imam sekarang menghadap umat ketika berada di belakang altar maka diperlukanlah satu SALIB KECIL di atas altar bagian depan, bisa dalam posisi berdiri bisa juga hanya diletakkan seperti sekarang ini, yang peting bisa selalu dapat memandangnya. Hal ini tidak mungkin dilakukan kalau imam sementara memimpin doa harus menoleh ke belakang memandang ke atas memandang salib besar itu. Dulu atau mungkin sekarang juga masih ada polemik tentang salib di atas altar itu: besar atau kecil dan harus menghadap ke arah umat atau imam? Kalau seperti dulu, salib itu agak besar sehingga bisa menjadi titik fokus ibadah baik bagi imam maupun umat, tetapi sekarang dikatakan salib itu menghalangi pandangan umat terhadap apa yang ada dan yang terjadi di atas altar. Maka salib harus kecil. Khusus di DKI, Uskup rupanya menghendaki salib kecil dan diletakkan saja di atas altar. ((Perhal ini bandingkan saja dengan penataan salib altar (besar/kecil dan berdiri/direbahkan) saat Paus mempersembahkan misa di halaman Basilika St. Petrus atau di kapel utama di dalam Basilika, di bawah Ikon Roh Kudus)). Sebenarnya hanya dua salib itu yang diperlukan di dalam gereja untuk perayaan Ekaristi. Salib lain? (BERSAMBUNG)
 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Foto Wilayah - Lingkungan