Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak

Paroki Cilandak - KAJ

Gereja Katolik Santo Stefanus

Facebook Twitter

Surat Gembala

Mengampuni Sebanyak 490 Kali?

Minggu, 17 September 2017
Ditulis oleh FX. Joko Susilo, SCJ

Dalam satu sharing kitab suci yang mengisahkan ten­tang perumpamaan tentang pengampunan dalam Matius 18: 21-35, kepada anak-anak SMP sebuah sekolah Katolik di Lampung, sa­ya menanyakan apa yang dimaksud dengan kata-kata Yesus, “Mengampuni 70 kali 7 kali”? spontan ada seorang anak yang menjawab dengan lantang,’ Meng­am­puni sebanyak 490 kali Ro­mo!”. Saya hanya bisa ter­senyum mendengar jawaban lan­tang anak itu, namun ke­mu­dian saya menjelaskan kepada mereka.

 

Saudara-saudari terkasih hari ini kita merenungkan ki­sah Injil tentang per­umpamaan pengampunan dalam Ma­tius 18: 21-35. Kisahnya adalah percakapan Petrus dengan Yesus. Pet­rus bertanya kepada Yesus,”Tuhan sam­pai berapa kali aku ha­rus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa ter­­hadap aku? Sampai tujuh kali?”. Yesus men­jawab, ”Bu­kan! Aku ber­kata kepa­damu: Bukan sampai tu­juh kali, me­lainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dari per­tanyaan ini nam­pak jelas bisa kita pahami, bahwa Petrus me­nanya­kan ba­tasan me­ngampuni dan Yesus ingin me­nekankan ten­tang mengam­puni tanpa batas. Yesus meng­a­jak kita seba­gai mu­rid-murid­Nya untuk tidak mem­batasi pengam­punan. Meng­apa? Men­jawab itu kisahnya berlanjut,  tentang seo­rang ham­­ba yang berhu­tang 10000 talenta dan tidak mam­pu mem­bayar pada wak­tunya, sehingga dia min­ta kesaba­ran dan kemurahan hati raja untuk memberi teng­gang waktu pembayaran hutang. Namun hati raja tergerak oleh belas­kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebas­kannya dan menghapuskan hutangnya. Waahhhh…. Luarbiasa ke­baikan hati sang raja. Saudara-saudari talenta pada za­man Yesus dipakai untuk menyebut mata uang pada zaman itu. Harga satu talenta sama dengan 6000 dinar, se­dangkan satu dinar dalah upah bekerja 1 hari. Hamba per­tama ini mempunyai hutang 10000 talenta, kita bisa meng­hitung be­tapa banyaknya hutangnya kalau dipecahkan dalam dinar, men­jadi 60.000.000 dinar. Kalau hamba pertama ini bekerja, sampai berapa lama dia bisa melunasi meski diberi tenggang waktu oleh sang raja? Hemm… sepertinya mustahil. Tapi apa yang terjadi justru diluar perkiraan hamba pertama, karena dia dibebaskan dan semua hutang dihapuskan oleh raja. Namun apa yang mem­prihatinkan kemu­dian adalah sikap hamba pertama ini kepada hamba kedua, yang punya hutang 100 dinar kepada hamba pertama tadi. Hamba kedua minta tenggang waktu pelunasan hutang, dan tidak minta penghapusan hutang. Hutang 100 dinar berarti sebenarnya bisa dilunasi dengan 100 hari bekerja, dan ini wajar. Namun tidak diberikan tenggang waktu dan bertindak jahat kepada hamba kedua. Kemudian sang raja mendapat laporan perbuatan hamba pertama menyebut hamba pertama ini adalah hamba yang jahat, karena tidak mau mengasihani kawannya seperti Raja mengasihani dia (hamba pertama). Hamba pertama berbuat jahat, dengan me­nangkap hamba kedua, mencekik, menagih hutang dan bahkan menje­bloskan kawan­nya yaitu hamba kedua ke dalam penjara, karena tidak mampu melunasi hutangnya. Hamba pertama ini merupakan gambaran pribadi manusia yang tak mengenal belaskasihan. Yesus me­ngajak Petrus untuk sadar bahwa kita lebih dulu diampuni tanpa batas oleh Bapa, maka kita diajak mempunyai sikap yang sama, untuk mempunyai sikap belaskasih.

 

Saudara-saudari yang terkasih, Minggu lalu kita diajak mensyukuri dan sekaligus merenungkan bahwa Gereja merupakan komunitas yang saling menyelamatkan melalui sikap saling menasihati dan mendoakan, Minggu ini kita masuk dalam salah satu karakter murid Kristus yaitu mengampuni. Ada banyak pesan yang bisa kita pe­tik, namun pesan yang kuat adalah tentang pengampunan sesuai dengan judul pe­rikopa hari ini. Perikopa ini mengakhiri dengan kalimat,”Maka BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Kalimat ini menegaskan sikap kita kepada sesama menentukan sikap Allah kepada kita. Hamba yang tak mengenal be­las­kasihan gagal memahami contoh dari raja, dan kekejamannya terhadap hamba yang lain berakibat penarikan kembali pengampunannya sendiri.

 

Saudara-saudari terkasih, mengakhiri permenungan hari ini, saya kutip pesan Paus Fransiskus tentang pentingnya pengampunan dalam keluarga yang beliau sampaikan di Kuba pada 22 September 2015 saat kunjungan  saat merayakan Hari Komunikasi Se-Dunia.

 

“Tidak ada keluarga yang sempurna. Orang tua kita tidak sempurna. Kita tidak sempurna dan tidak menikah dengan orang yang sempurna. Maka kita juga punya anak yang tidak sempurna.

Kita mengeluh satu kepada yang lain. Kita kecewa satu terhadap yang lain. Karena itu tidak ada pernikahan yang sehat dan tidak ada keluarga yang sehat tanpa adanya PENGAMPUNAN.

Pengampunan sangat penting untuk kesehatan emosional dan keselamatan spiritual kita. Tanpa pengampunan, keluarga menjadi panggung konflik, benteng penuh keluhan. Tanpa pengampunan, keluarga menjadi sakit.

Pengampunan mensterilkan jiwa. Membersihkan pikiran dan memerdekakan hati.

Semua orang yang tidak mengampuni tidak mempunyai kedamaian jiwa dan persekutuan dengan Allah. Sakit hati adalah racun yang membuat sakit dan membunuh. Memelihara luka dalam hati adalah penghancuran diri sendiri.

Orang yang tidak mengampuni akan sakit secara fisik, emosional dan spiritual. Karena itulah keluarga harus menjadi tempat kehidupan bukan tempat kematian. Keluarga adalah sarang kesembuhan, bukan penyakit. Panggung pengampunan,bukan rasa bersalah.

Pengampunan membawa kegembiraan sedang kesedihan membawa luka. Pengampunan membawa kesembuhan sedang kesedihan membawa penyakit.”

Berkah Dalem †

FX. Joko Susilo, SCJ

back to surat gembala

Loading...