Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak

Paroki Cilandak - KAJ

Gereja Katolik Santo Stefanus

Facebook Twitter

Kesaksian Iman

SELAMAT JALAN PAK SABAR

 

Terindah dalam hidupku MengenalMu

Terindah dalam hidupku MengenalMu

Ku ingin selalu, lebih mengenalMu

Terindah dalam hidupku MengenalMu

Lagu yang dinyanyikan sahabat-sahabat Choice seakan masih terngiang di telinga, walaupun dia sudah pergi meninggalkan kita semua. Paulus Sabar Prasojo, itulah nama lengkap seorang katekis senior yang lebih akrab dengan panggilan Pak Sabar.

 

Pak Sabar sangat menghayati nama itu. Sebagai Paulus seorang pewarta Yesus, dia tidak pernah lelah mengajar, mewartakan tentang siapa Yesus dan kabar baik yang dibawaNya. Bahkan selalu mengatakan dalam ilustrasinya “yuk kita buat warung katekese” dimana setiap orang bisa bertanya apapun tentang iman akan Yesus yang dihayatinya, ajaran Gereja Katolik dan sebagainya supaya orang Katolik tidak ada keinginan jajan ke warung tetangga.

 

Pendampingan iman juga dilakukan dalam keluarga besarnya, sehingga orangtuanya yang beragama muslim semua akhirnya dibaptis menjadi Katolik. Sabar Prasojo adalah harapan menjadi orang yang sabar dan sederhana, terjadilah demikian. Beliau penuh kesabaran mendampingi kami para katekis dan selalu memotivasi, menyemangati serta mendorong bila ada teman-teman katekis yang merasa lelah ataupun kecewa dalam memberikan pendampingan iman umat.

 

Penampilannya selalu sederhana dengan kemeja lengan pendek dan rambut yang kadang agak gondrong bila tidak sempat cukur. Senyumnya selalu penuh arti dan tidak bisa dengan mudahnya kita tebak apa yang ada di benaknya. Pak Sabar yang lulusan Institut Teknologi  Surabaya aktif mendampingi kaum muda, pasutri dan tergabung dalam komunitas Choice. Banyak membantu mengentaskan kemiskinan baik dalam keluarga maupun masyarakat dengan pemberdayaan kemampuan yang ada. Semua saudara dari saudara kandung maupun ipar dibantunya dengan meningkatkan pendidikan mereka sehingga mereka bisa bangun untuk memampukan dirinya sendiri.

Tidak ada tanda-tanda beliau sedang sakit, walaupun memang sejak bulan November kondisi kesehatan beliau memang tidak prima seperti biasanya. Pada tanggal 4 Maret 2016 Pak Sabar bersama ibu masih terlihat mengikuti perayaan Ekaristi Jumat Pertama pk. 05.30 di gereja. Pasangan ini melintas di depan saya saat mencelupkan jari mengambil air suci. Sesudah misa beliau masih meneruskan dalam antrian untuk menerima Sakramen Tobat.

 

Mengikuti prosesi perjalanan ke tempat peristirahatan terakhir di San Diego Hills, Karawang memang cukup jauh tetapi perjalanan lancar dan udara cerah sangat mendukung. Dalam mengantar kepergian beliau, sang adik, Bapak Paulus Komar Satriyono menceritakan saat-saat terakhir kepergian beliau menghadap Sang Khalik. Sebuah peristiwa yang menguatkan iman.

 

Saat itu Sabtu, tanggal 5 Maret 2016 setelah selesai melaksanakan upacara misa 100 hari ayahanda di Klaten, sekitar pukul 22.00 pak Sabar berkumpul bersama keluarga besar (adik-adik dan kakaknya). Pertemuan keluarga besar sambil melepas kerinduan baru berjalan sekitar 15 menit, tiba-tiba pak Sabar merasa sesak nafas dan beliau minta oksigen: “aku perlu oksigen.” Karena di klinik terdekat tidak ada oksigen, beliau dibawa ke puskesmas dan segera mendapatkan oksigen. Tetapi beliau mengatakan: “aku ora kuat” lalu atas saran paramedis sekitar pukul 23.15 beliau dibawa ke RS Bagas Waras Klaten untuk mendapatkan pertolongan.

 

Dan dalam kesesakan nafasnya beliau mencari Tuhan: ‘Tuhan…Tuhan, dimana Engkau?” Dengan berkata-kata yang kurang jelas sepertinya ada komunikasi beliau dengan Tuhannya…. yang kemudian dengan sangat jelas beliau mengatakan: “Terima kasih Tuhan” lalu sesaknya agak berkurang. Dan pada pukul 00.30 beliau benar-benar berangkat menghadap Tuhan, Allah Bapa yang Maharahim meninggalkan kita semua. “Selamat jalan Pak Sabar…”

 (~ye2n~)

 

 

back to warta paroki

Loading...