Gereja Katolik St. Stefanus Paroki Cilandak

Paroki Cilandak - KAJ

Gereja Katolik Santo Stefanus

Facebook Twitter

Kesaksian Iman

Mungkinkah kita bersyukur karena menderita berkepanjangan hingga akhir hayat?

 

Orang biasa pasti kecewa, marah dan meninggalkan Tuhan saat doa permohonannya tidak juga terwujud dalam kehidupan ini. Mari mengenal Lydwina yang rela menanggung penderitaannya, dia tetap bergembira dan bersyukur sebagai wujud pewartaannya kepada dunia tentang Kristus yang rela disalib demi keselamatan jiwa manusia. Warta iman yang seperti ini mungkin akan kita hindari, sebab selalu dalam doa kita memohon supaya penderitaan jangan hinggap di hidup kita.

 

Bayangkan anda atau anak anda masih muda belia, usia 15 tahun, harus terenggut kejayaan hidupnya. Lydwina yang lahir di Schiedam Belanda tanggal 18 Maret 1380, terjatuh ketika sedang berseluncur di salju/es dan ditemukan ada tulang iga yang patah. Namun ternyata buntut dari kejatuhan tersebut panjang dan terus menerus semakin parah  tanpa bisa diobati. (kini penyakit yang dideritanya disebut multiple sclerosis). Lydwina harus rela masa mudanya dan energi hidupnya sedikit demi sedikit tergerus sampai di akhir hayatnya pada usia 53 tahun di tanggal 14 April 1433 ketika ia meninggal.

Lydwina

Sayang meskipun bergelar bangsawan, ayah ibunya hidup miskin dengan 8 putra dan Ldwina manjadi putri satu-satunya. Sejak berusia 12 tahun ia memutuskan memberikan dirinya kepada Bunda Maria dan rajin berdoa. Setelah terjatuh, timbul luka di dalam tubuhnya yang mengeluarkan nanah, juga 3 tahun setelahnya, ia hanya bisa  merangkak untuk berpindah, lalu ia terpaksa hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Di awal sakit ia berdoa kepada Yesus, imannya menyatakan dia justru dipilih Allah, ia bersyukur boleh merasakan dan menyatkan penderitaannya di kaki salib Yesus. Lydwina bisa menunjukkan pengertian sangat dalam apa artinya menderita dalam hidup ini namun mempunyai jiwa yang merdeka dan keselamatan iman, penuh cinta seperti Yesus kepada setiap manusia. Memang aneh, di dalam dirinya yang menderita, orang lain menemukan pribadi yang bergembira, menemukan keagungan dan keluasan cinta, kedamaian dan kebahagiaan jiwa sejati.

 

Ia akhirnya kehilangan pandangan, lumpuh hampir seluruh badan, luka-luka berdarah. Ia juga tidak bisa makan dan minum, 19 tahun di sisa hidupnya ia hanya bisa menelan hosti Ekaristi (orang awam mengatakan roti kecil yang dicelup ke anggur) setiap pagi. Devosinya kepada Sakramen Maha Kudus membuat ia kuat. Meski penuh luka berdarah dan nanah, lukanya justru tercium aroma wangi dan tidak menjijikkan. Selain banyak mereka yang kagum padanya dan memandang ia suci, banyak juga yang mencibir menyatakan ceritanya palsu. Mereka tidak bisa percaya bahwa dia mendapat karunia, karena Lydwina sering kali didatangi Malaikat dan Para Kudus sebagai penghiburannya.  


Bersama Malaikat dan Para Kudus, Ia juga dibawa ketempat dimana jiwa-jiwa dimurnikan (pulgatory), banyak dari jiwa tersebut memohon diselamatkan dan ia menyelamatanmereka berkat penderitaannya. Ia mendapat Stigmata namun ia mohon pada Yesus untuk tidak ditampilkan karena akan membuat lebih banyak kecurigaan orang. Sebab sempat ia disiksa dan diinterogasi oleh prajurit ketika kota Schiedam diduduki oleh tentara Jerman.

 

Keberadaan dirinya dan bagaimana ia suci dimuat dalam dokumen kota Schiedam. Ya hampir seluruh orang mengenal Lydwina sebagai suci, sebab ia tempat jiwa berteduh, tempat menyembuhkan luka dan penyakit mereka. Biography tentang dirinya ditulis oleh Friar John Brugman tahun 1433 di Cologne beberapa saat setelah kematiannya. Banyak yang datang berziarah ke makam Lidwina untuk mohon kesembuhan, dan mukjizat terjadi. Tahun 1434, sebuah kapel dibangun di atas makam tersebut.


buku ttg LydwinaDunia lebih mengenal tulisan tentang Lydwina dari kisah yang ditulis oleh Johanes Brugman tahun 1498 dan publikasi Thomas a Kempis. Tahun 1615 relict dan peninggalannya dibawa ke Brussels , tetapi pada tahun 1871 dikembalikan ke Schiedam.

Untuk mengenang Lydwina, di Schiedam, Belanda, dibangun gereja dan disana kini disimpan relict miliknya. Schiedan dekat dengan Rotterdam, sebuah kota yang indah dengan sungai dan banyak windmill.

 

 

Lebih dari 400 tahun setelah kematiannya, lewat penyelidikan mendalam, gereja Katolik menyatakan Lydwina sebagai Santa pada 14 Maret 1890, kanonisasi oleh Paus Leo XIII. Santa Lydwina menjadi santa pelindung peseluncur es, santa pelindung mereka yang sakit kronis, serta santa pelindung kota Schiedam-Belanda. Pesta namanya dirayakan tiap tanggal14 April. Digambarkan Lydwina santa yang memegang salib disatu tangan dan bunga Lily ditangan lainnya, disebelahnya ada malaikat Allah.

 

     Schiedam n LIdwina

 

Suki Hartanto, tulisan dibuat dari berbagai sumber internet yang berisi tulisan Thomas a Kempis.

back to warta paroki

Loading...